Panduan

Harga rumah di Jogja: rentang Sleman, Bantul, dan kota

Ilustrasi: Harga rumah di Jogja: rentang Sleman, Bantul, dan kota
Ilustrasi konsep untuk panduan ini, bukan foto properti atau lokasi tertentu.

Jawaban singkatTidak ada lembaga resmi yang menerbitkan harga rumah di Jogja per meter persegi, jadi yang bisa dipertanggungjawabkan hanyalah snapshot penawaran yang metodenya terbuka. Pada 3 September 2026 kami mencatat 784 iklan rumah tapak dari 39 kecamatan, kapanewon, dan kemantren di tiga daerah, dan hasilnya begini: median harga penawaran Rp3,50 miliar di Kota Yogyakarta, Rp888 juta di Kabupaten Sleman, dan Rp580 juta di Kabupaten Bantul. Jangan berhenti di angka itu, karena menyesatkan kalau dibaca mentah. Begitu dinormalkan ke luas tanah, jaraknya menyusut drastis: Rp13,2 juta per m2 di Kota Yogyakarta, Rp6,0 juta di Sleman, dan Rp5,8 juta di Bantul. Artinya selisih median enam kali lipat tadi sebagian besar bukan selisih harga, melainkan selisih ukuran kaveling, sebab kaveling median di kota 267 m2 sedangkan di Bantul 89 m2. Semua nominal itu harga yang diminta penjual, bukan harga transaksi.

Angka resmi yang ada dan yang tidak

Pertanyaan "berapa harga rumah di Jogja" biasanya dijawab dengan satu angka rata-rata yang terdengar meyakinkan dan tidak punya sumber. Mari diluruskan sejak awal. Indonesia tidak punya basis data transaksi properti yang terbuka untuk umum, sehingga tidak ada instansi mana pun yang menerbitkan harga pasar rumah per meter persegi untuk sebuah kota. Yang ada cuma tiga hal, dan ketiganya perlu kamu bedakan.

Pertama, satu angka rupiah yang benar-benar ditetapkan negara. Keputusan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 1722/KPTS/M/2026 memuat Lampiran huruf A berisi harga jual rumah umum tapak paling banyak per wilayah. Daerah Istimewa Yogyakarta masuk kelompok Jawa di luar Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi, sehingga batasnya Rp166.000.000. Angka itu batas atas untuk unit di dalam program fasilitasi pemerintah, bukan taksiran nilai pasar. Diktum KESATU keputusan yang sama membatasi luas lantainya 21 m2 sampai 36 m2 dan luas lahan efektifnya 60 m2 sampai 200 m2, jadi cakupannya sempit. Dari 784 iklan yang kami catat, hanya 4 yang harganya berada di angka itu atau di bawahnya. Skema program, syarat penghasilan, dan cara mengeceknya sudah dibahas terpisah di rumah subsidi Jogja.

Kedua, indeks resmi yang berkala tetapi bukan harga. Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia memang mencakup Yogyakarta sebagai salah satu dari 18 kota. Perhatikan metodologinya: survei triwulanan itu dilakukan terhadap sampel pengembang proyek perumahan, dan angkanya indeks dengan tahun dasar 2018 sama dengan 100, bukan rupiah. Praktisnya, indeks itu tidak bisa menjawab berapa harga satu rumah bekas di Bantul, karena rumah bekas memang di luar sampelnya. Cara membaca indeks ini beserta angkanya kami bahas di harga rumah di Bandung, dan tidak diulang di sini.

Ketiga, snapshot penawaran. Ini yang tersisa, dan sah dipakai selama tanggalnya, jumlah sampelnya, dan cara mengambilnya disebutkan terus terang, serta diakui sebagai harga yang diminta penjual. Itulah isi bagian berikutnya.

Poin pentingSeluruh nominal di halaman ini adalah harga penawaran pada satu hari tertentu, bukan harga transaksi, bukan nilai pasar, dan bukan hasil penilaian. Harga penawaran hampir selalu berada di atas harga jadi, dan besarnya selisih itu tidak dipublikasikan siapa pun di Indonesia. Pakai angka di sini untuk menyusun rentang awal dan menyaring iklan yang jauh melenceng, bukan untuk menetapkan tawaranmu.

Rentang tiga daerah dari 784 iklan

Pada 3 September 2026 kami membuka portal 99.co lewat peramban sungguhan, lalu menyusuri halaman pertama untuk setiap wilayah kecil yang punya halaman tersendiri di portal itu. Hasilnya 39 wilayah: 13 kemantren di Kota Yogyakarta, 16 kapanewon di Kabupaten Sleman, dan 10 kapanewon di Kabupaten Bantul. Perhatikan bahwa ini bukan seluruh kecamatan di ketiga daerah tersebut, melainkan yang datanya tersedia. Metode per wilayah dibuat seragam supaya perbandingannya jujur, bukan mengambil satu daerah lebih dalam daripada yang lain.

Terkumpul 806 iklan unik. Dari jumlah itu, 22 iklan kami buang karena isiannya jelas rusak, misalnya harga di bawah Rp100 juta, luas tanah 1 m2, atau rasio harga per meter tanah di atas Rp60 juta yang tidak masuk akal untuk rumah tapak. Sisanya 784 iklan yang seluruhnya punya harga, luas tanah, dan luas bangunan sekaligus. Berikut hasilnya.

DaerahIklan tercatatKuartil bawahMedianKuartil atasMedian per m2 tanah
Kota Yogyakarta253Rp1,60 miliarRp3,50 miliarRp6,60 miliarRp13,2 juta
Kabupaten Sleman327Rp540 jutaRp888 jutaRp1,80 miliarRp6,0 juta
Kabupaten Bantul204Rp350 jutaRp580 jutaRp999 jutaRp5,8 juta

Rentang penuhnya jauh lebih lebar daripada kesan yang diberikan median. Di Kota Yogyakarta, iklan termurah yang kami catat Rp275 juta dan termahal Rp35,00 miliar. Di Sleman, Rp194 juta sampai Rp16,00 miliar. Di Bantul, Rp162 juta sampai Rp5,50 miliar. Karena itulah kuartil lebih berguna daripada rata-rata: separuh iklan Sleman berada di antara Rp540 juta dan Rp1,80 miliar, dan itu rentang yang bisa kamu pakai untuk menilai apakah satu iklan wajar atau ganjil.

Perhatikan juga bentuk sebarannya. Di Kota Yogyakarta, 138 dari 253 iklan dipasang pada harga Rp3 miliar ke atas, sedangkan di Bantul hanya 10 dari 204. Sebaliknya, 86 dari 204 iklan Bantul berada di bawah Rp500 juta, sementara di Kota Yogyakarta hanya 6. Kalau anggaranmu di bawah Rp500 juta, secara praktis kamu sedang berbelanja di Bantul dan pinggiran Sleman, bukan di dalam kota.

Gradien per kecamatan

Angka per daerah menyembunyikan hal paling berguna, yaitu bahwa perbedaan di dalam satu kabupaten bisa lebih besar daripada perbedaan antarkabupaten. Kami hitung median harga per meter tanah untuk setiap wilayah kecil yang datanya terkumpul. Berikut ujung atas dan ujung bawahnya.

DaerahTiga tertinggi (juta per m2 tanah)Tiga terendah (juta per m2 tanah)
Kota YogyakartaPakualaman 19,7 ; Gondokusuman 16,7 ; Kraton 16,5Kotagede 7,7 ; Mergangsan 9,6 ; Gondomanan 9,8
Kabupaten SlemanMlati 12,5 ; Depok 12,0 ; Ngaglik 11,6Turi 3,3 ; Moyudan 3,5 ; Minggir 3,8
Kabupaten BantulBanguntapan 10,0 ; Kasihan 9,5 ; Sewon 9,0Pandak 3,2 ; Pajangan 4,2 ; Jetis 4,3

Baca tabel itu sekali lagi dan polanya langsung kelihatan. Yang menentukan bukan nama kabupatennya, melainkan jarak ke pusat Kota Yogyakarta. Mlati, Depok, Ngaglik, dan Gamping di Sleman, serta Banguntapan, Kasihan, dan Sewon di Bantul, adalah wilayah yang menempel langsung ke batas kota, dan angkanya berada di kisaran Rp9 juta sampai Rp12,5 juta per m2 tanah. Itu setara dengan kemantren kelas menengah di dalam kota sendiri, misalnya Tegalrejo yang 10,7 dan Danurejan yang 10,2. Sementara itu Turi di lereng utara dan Pandak di barat daya berada di sekitar Rp3 juta, kira-kira seperempat dari Mlati yang masih satu kabupaten dengannya.

Konsekuensi praktisnya: kalau kamu sedang membandingkan dua iklan, membandingkan "Sleman versus Bantul" hampir tidak ada gunanya. Yang bermakna adalah membandingkan kapanewon dengan kapanewon, dan lebih baik lagi membandingkan lingkungan dengan lingkungan. Pembanding yang benar untuk rumah di Kasihan adalah rumah lain di Kasihan atau di Gamping, bukan rumah di Pandak yang sama-sama Bantul.

Satu peringatan atas tabel di atas. Kretek di Bantul hanya menghasilkan 2 iklan yang lolos saring, jadi angkanya kami keluarkan dari daftar tiga terendah karena sampelnya terlalu tipis untuk dipercaya. Beberapa kecamatan juga tidak muncul sebagai halaman wilayah tersendiri di portal itu, termasuk Kemantren Gedongtengen di Kota Yogyakarta, sehingga tidak ikut tercatat sama sekali. Keterbatasan seperti ini normal untuk data iklan, dan justru harus disebutkan, bukan disembunyikan.

Selisihnya sebagian besar luas tanah

Sekarang bagian yang paling sering membuat orang salah mengambil keputusan. Selisih median harga antara Kota Yogyakarta dan Bantul adalah 6,0 kali lipat, yaitu Rp3,50 miliar dibanding Rp580 juta. Tetapi selisih median harga per meter tanahnya cuma 2,3 kali lipat, yaitu Rp13,2 juta dibanding Rp5,8 juta. Selisih sisanya datang dari sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mahal atau murah.

DaerahLuas tanah medianLuas bangunan medianIklan berkaveling di atas 200 m2
Kota Yogyakarta267 m2210 m2152 dari 253
Kabupaten Sleman121 m285 m284 dari 327
Kabupaten Bantul89 m270 m233 dari 204

Kaveling median di Kota Yogyakarta tiga kali lipat kaveling median di Bantul. Yang dijual di dalam kota memang jenis barang yang berbeda, yaitu rumah lama di kaveling besar, bukan rumah kluster di kaveling 90 m2. Jadi ketika seseorang bilang "rumah di kota enam kali lebih mahal daripada di Bantul", yang sebenarnya dia bandingkan adalah rumah 210 m2 di atas 267 m2 tanah melawan rumah 70 m2 di atas 89 m2 tanah. Itu bukan perbandingan harga, itu perbandingan ukuran.

Karena itu, aturan kerjanya sederhana dan tidak bisa ditawar: normalkan dulu, baru bandingkan. Hitung harga per meter tanah, lalu pisahkan nilai bangunan dari nilai tanah, karena bangunan menyusut nilainya sementara tanah tidak. Kerangka pemisahannya, termasuk cara memperlakukan penyusutan bangunan, ada di harga rumah. Kalau kamu ingin patokan kasar untuk sisi bangunan, median harga per meter bangunan dari snapshot kami adalah Rp16 juta di Kota Yogyakarta, Rp11 juta di Sleman, dan Rp8,6 juta di Bantul, tetapi angka ini campuran nilai tanah dan bangunan dalam satu iklan, jadi ia patokan pembanding, bukan biaya membangun.

Hati-hatiAngka per meter tanah pun bisa menipu kalau kavelingnya sangat kecil atau sangat besar. Kaveling kecil di lokasi bagus hampir selalu menghasilkan angka per meter yang tinggi, sedangkan kaveling sangat luas di pinggiran menghasilkan angka rendah, tanpa keduanya benar-benar mencerminkan kualitas lokasi. Bandingkan iklan yang luas kavelingnya berdekatan, misalnya sesama 100 sampai 150 m2, sebelum menyimpulkan satu lokasi lebih mahal daripada lokasi lain.

Lapisan hukum yang hanya ada di DIY

Ada satu hal yang membuat menilai rumah di Jogja tidak sama dengan menilai rumah di provinsi lain, dan ini sering dilewati pembeli dari luar daerah. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam Pasal 7 ayat (2), menyebut kewenangan dalam urusan Keistimewaan meliputi lima hal, dan dua di antaranya adalah pertanahan serta tata ruang. Artinya urusan tanah di DIY punya lapisan pengaturan tersendiri di tingkat provinsi yang tidak ada padanannya di daerah lain.

Praktisnya, ini berarti dua pekerjaan tambahan buatmu sebagai pembeli. Pertama, periksa status tanahnya dengan lebih teliti daripada kebiasaan di kota lain, karena tidak semua bidang di DIY berstatus hak milik perorangan biasa. Uraian mengenai Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten, termasuk dasar hukumnya, sudah kami bahas di rumah subsidi Jogja dan tidak diulang di sini. Kedua, jangan menyamakan begitu saja apa yang boleh dibangun di satu bidang dengan yang boleh dibangun di bidang lain, sekalipun keduanya berjarak ratusan meter.

Lapisan kedua yang lebih mudah dilupakan adalah batas administrasi. Pasal 3 undang-undang yang sama menyebut wilayah DIY terdiri atas Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Gunungkidul. Kelimanya memungut pajak daerah berdasarkan Peraturan Daerah masing-masing, sehingga dua rumah yang cuma berseberangan jalan bisa punya tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang berbeda dan batas tidak kena pajak yang berbeda untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Perbandingan tarif ketiga daerah itu, berikut nomor Perda-nya, sudah dipegang halaman rumah subsidi Jogja. Yang perlu kamu lakukan di sini cuma satu: pastikan dulu satu bidang itu masuk daerah mana, sebelum menghitung biaya apa pun.

Perlu ditegaskan juga bahwa artikel ini hanya membahas rumah tapak. Sebaran apartemen di Jogja punya cerita sendiri, hampir seluruhnya berada di Sleman dan bukan di Kota Yogyakarta, dan konsekuensi biayanya berbeda. Itu kami bahas di harga apartemen di Jogja.

Mendapatkan NJOP objek incaranmu

Snapshot iklan menjawab pertanyaan "berapa yang diminta penjual". Ia tidak menjawab "berapa nilai yang diakui negara atas bidang ini". Untuk itu kamu butuh Nilai Jual Objek Pajak yang tercantum pada Surat Pemberitahuan Pajak Terutang PBB objek tersebut. NJOP bukan harga pasar dan biasanya berada di bawahnya, tetapi ia satu-satunya angka rupiah resmi yang melekat pada bidang tertentu, dan itu membuatnya berguna sebagai jangkar.

Cara paling pasti mendapatkannya sama di mana pun: minta salinan SPPT PBB tahun berjalan kepada penjual sebelum kamu serius menawar. Di situ tertera Nomor Objek Pajak, luas bumi, luas bangunan, dan NJOP masing-masing. Kalau penjual enggan menunjukkannya, itu sendiri sudah sinyal yang perlu kamu pikirkan.

Untuk memeriksa lewat kanal resmi daerah, ini tiga alamat yang kami buka pada 3 September 2026 dan benar-benar merespons:

DaerahPengelolaCatatan
Kota YogyakartaBadan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota YogyakartaHalaman utamanya memuat kanal layanan PBB-P2 kota
Kabupaten BantulBadan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah BantulMenyediakan layanan PBB-P2 kabupaten
Kabupaten SlemanBadan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten SlemanSitusnya menolak klien non-peramban, buka lewat peramban biasa

Kanal Sleman sengaja tidak kami masukkan ke daftar sumber di bawah karena saat diuji ia membalas kode 403 untuk klien otomatis. Itu perilaku penyaring bot, bukan tanda situsnya mati. Buka lewat peramban biasa dan halamannya tampil normal. Daftar kanal NJOP untuk provinsi lain ada di cek NJOP online, dan arti angka NJOP per meter persegi dijelaskan di NJOP per meter. Kalau kamu ingin menghitung sendiri dari nol, ikuti cara menghitung NJOP. Ringkasan kanal pajak daerah per wilayah juga tersedia di halaman harga properti, termasuk halaman Sleman.

Menyusun dan menguji rentangmu sendiri

Snapshot kami akan basi. Iklan berganti setiap minggu, dan angka yang kamu baca hari ini sudah bukan angka yang kami catat pada 3 September 2026. Jadi yang paling berharga bukan tabelnya, melainkan caranya. Berikut urutan yang bisa kamu ulang sendiri dalam satu sore.

  1. Tetapkan wilayah kecil, bukan kabupaten. Pilih satu sampai tiga kapanewon atau kemantren yang benar-benar kamu incar. Menggabungkan seluruh Sleman dalam satu keranjang akan menghasilkan rentang yang terlalu lebar untuk berguna.
  2. Kumpulkan minimal 20 iklan per wilayah. Catat harga, luas tanah, luas bangunan, dan alamatnya. Di bawah 20, satu iklan aneh sudah cukup untuk menggeser mediannya.
  3. Buang yang datanya rusak. Luas tanah kosong, luas bangunan lebih besar daripada yang masuk akal untuk kavelingnya, atau harga yang jelas salah ketik. Kami membuang 22 dari 806, kira-kira 3 persen, dan itu proporsi yang wajar.
  4. Hitung harga per meter tanah untuk setiap iklan, lalu ambil mediannya. Pakai median, jangan rata-rata, karena satu iklan Rp35 miliar cukup untuk merusak rata-rata seluruh wilayah.
  5. Bandingkan objek incaranmu dengan median itu. Kalau meleset lebih dari sepertiga ke atas maupun ke bawah, cari alasannya sebelum melangkah. Alasannya bisa sah, misalnya lebar muka kaveling, akses jalan, atau usia bangunan, dan bisa juga tidak sah.
  6. Jangkarkan ke NJOP. Bandingkan harga penawaran dengan NJOP pada SPPT objek itu, lalu bandingkan rasionya dengan beberapa objek lain di lingkungan yang sama.

Setelah punya rentang, uji apakah angkanya masuk ke kemampuanmu, bukan sebaliknya. Masukkan harga incaran ke kalkulator simulasi KPR untuk melihat angsurannya, lalu uji batas kesanggupanmu di kalkulator kelayakan KPR. Setelah itu hitung uang tunai yang harus disiapkan di luar cicilan lewat kalkulator biaya beli rumah, karena bea perolehan hak, akta jual beli, dan biaya balik nama tidak bisa diangsur. Rincian bea perolehannya ada di BPHTB, dan pajak tahunan yang menyusul setelah kamu jadi pemilik ada di PBB rumah.

PatokanKalau kamu memakai snapshot kami sebagai titik awal, pakai kuartil bawah, bukan median, untuk menyusun anggaran. Median artinya separuh iklan berada di atasnya, dan penawaran yang benar-benar bisa dinegosiasikan biasanya bukan yang di tengah. Kuartil bawah pada 3 September 2026 adalah Rp1,60 miliar di Kota Yogyakarta, Rp540 juta di Sleman, dan Rp350 juta di Bantul.

Terakhir, satu pengingat yang berlaku untuk semua kota. Iklan yang bertahan lama di portal biasanya bertahan karena harganya di atas pasar, bukan karena tidak ada yang melihatnya. Kalau kamu menemukan satu objek yang sudah berbulan-bulan terpasang, itu justru ruang tawarmu. Kalau ini rumah pertamamu, susun urutan langkahnya dari awal lewat beli rumah pertama, dan pastikan legalitasnya beres dengan kerangka di cara menilai perumahan.

Pertanyaan umum

Berapa harga rumah di Jogja per meter persegi? +

Tidak ada angka resmi. Dari snapshot 784 iklan rumah tapak yang kami catat pada 3 September 2026, median harga penawaran per meter persegi tanah adalah Rp13,2 juta di Kota Yogyakarta, Rp6,0 juta di Kabupaten Sleman, dan Rp5,8 juta di Kabupaten Bantul. Itu harga yang diminta penjual, bukan harga transaksi, dan berlaku untuk hari pencatatan itu saja. Di dalam satu kabupaten sebarannya sangat lebar: Mlati di Sleman tercatat Rp12,5 juta per m2 sementara Turi di kabupaten yang sama tercatat Rp3,3 juta.

Lebih murah mana, rumah di Sleman atau di Bantul? +

Kalau dilihat dari median harga penawaran, Bantul lebih murah, yaitu Rp580 juta berbanding Rp888 juta di Sleman pada snapshot 3 September 2026. Tetapi perbandingan itu menyesatkan karena kaveling median di Bantul 89 m2 sedangkan di Sleman 121 m2. Setelah dinormalkan ke luas tanah, jaraknya nyaris hilang, yaitu Rp5,8 juta berbanding Rp6,0 juta per m2. Yang benar-benar menentukan bukan nama kabupatennya melainkan kapanewonnya: Banguntapan di Bantul tercatat Rp10,0 juta per m2, lebih tinggi daripada Kalasan di Sleman yang Rp8,1 juta.

Kenapa harga rumah di dalam Kota Yogyakarta terlihat jauh lebih mahal? +

Karena barang yang dijual berbeda, bukan semata karena lokasinya lebih mahal. Kaveling median iklan di Kota Yogyakarta 267 m2 dengan bangunan 210 m2, dan 152 dari 253 iklan yang kami catat berkaveling di atas 200 m2. Di Bantul, kaveling median 89 m2 dengan bangunan 70 m2. Selisih median harganya enam kali lipat, tetapi selisih harga per meter tanahnya hanya 2,3 kali lipat. Sisanya adalah selisih ukuran.

Apakah masih ada rumah di Jogja di bawah Rp500 juta? +

Ada, tetapi sebarannya timpang. Dari snapshot 3 September 2026, 86 dari 204 iklan Bantul berada di bawah Rp500 juta, sedangkan di Kota Yogyakarta hanya 6 dari 253. Kapanewon dengan median terendah yang kami catat adalah Pandak, Pajangan, dan Jetis di Bantul, serta Turi, Moyudan, Minggir, dan Tempel di Sleman. Untuk anggaran di bawah Rp166 juta, jalurnya praktis hanya program rumah bersubsidi, dan itu dibahas terpisah di panduan rumah subsidi Jogja.

Apakah ada data harga rumah Jogja dari pemerintah? +

Yang paling mendekati adalah dua hal, dan keduanya bukan harga pasar. Pertama, Keputusan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 1722/KPTS/M/2026 menetapkan harga jual paling banyak Rp166.000.000 untuk rumah umum tapak di wilayah yang mencakup DIY, tetapi itu batas program dengan luas lantai 21 sampai 36 m2. Kedua, Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mencakup Yogyakarta, tetapi keluarannya indeks dengan tahun dasar 2018 dan sampelnya pengembang perumahan, bukan pasar rumah bekas.

Apa yang khusus perlu diperiksa saat membeli rumah di Jogja? +

Status tanahnya. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Pasal 7 ayat (2), menempatkan pertanahan dan tata ruang sebagai urusan Keistimewaan di tingkat provinsi, sehingga DIY punya lapisan pengaturan tanah yang tidak ada di daerah lain. Selain itu pastikan lebih dulu bidang itu masuk daerah mana di antara lima daerah DIY, karena tarif PBB-P2 dan batas tidak kena pajak BPHTB ditetapkan Peraturan Daerah masing-masing dan bisa berbeda meski lokasinya berdekatan.

Bagaimana cara mengecek NJOP rumah di Jogja? +

Cara paling pasti adalah meminta salinan SPPT PBB tahun berjalan kepada penjual, karena di situ tertera Nomor Objek Pajak, luas bumi, luas bangunan, dan NJOP-nya. Untuk kanal resmi daerah, layanan PBB-P2 Kota Yogyakarta dikelola Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah kota, Bantul oleh Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah, dan Sleman oleh Badan Keuangan dan Aset Daerah kabupaten. Situs Sleman menolak akses otomatis, jadi bukalah lewat peramban biasa.

Sumber
  1. Kepmen PKP Nomor 1722/KPTS/M/2026 tentang Kriteria Rumah Umum Tapak Dalam Fasilitasi Pemerintah Pusat (JDIH Kementerian PKP) - Diunduh dan dibaca 3 September 2026, berkas PDF 254.587 byte. Diktum KESATU menetapkan luas lahan efektif 60 m2 sampai 200 m2, lebar muka kaveling minimal 5 m, dan luas lantai minimal 21 m2 sampai dengan 36 m2. Lampiran huruf A memuat harga jual paling banyak, dan kelompok Jawa di luar Jakarta, Kabupaten dan Kota Tangerang, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, serta Kabupaten dan Kota Bekasi tercatat Rp166.000.000. Diktum KEDUA menyebut jangka waktu kredit atau pembiayaan paling lama 40 tahun, suku bunga 5 persen sepanjang tenor atau skema berjenjang, dan bebas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan
  2. UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (peraturan.bpk.go.id) - Diakses 3 September 2026. Status pada halaman JDIH: Berlaku, ditetapkan 31 Agustus 2012 dan berlaku 3 September 2012, tanpa blok Dicabut dengan. Naskah unduhannya dibaca langsung: Pasal 3 menyebut wilayah DIY terdiri atas Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dan Kabupaten Gunungkidul. Pasal 7 ayat (2) menyebut kewenangan dalam urusan Keistimewaan meliputi tata cara pengisian jabatan, kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang
  3. Survei Harga Properti Residensial Triwulan II 2026, Bank Indonesia (PDF) - Diunduh dan dibaca 3 September 2026, berkas 1.986.918 byte. Bagian Metodologi menyatakan survei triwulanan dilakukan terhadap sampel pengembang proyek perumahan di 18 kota, termasuk Yogyakarta, dengan data yang dikumpulkan berupa harga jual rumah serta jumlah unit yang dibangun dan dijual, dan tahun dasar indeks 2018 sama dengan 100. Dipakai HANYA untuk menjelaskan batas kegunaan indeks itu, bukan untuk menerbitkan angka indeks per kota. Catatan teknis: bi.go.id mereset koneksi untuk klien non-peramban, jadi pemeriksa otomatis bisa melaporkan gagal koneksi meski halamannya hidup
  4. Rumah dijual di Kabupaten Sleman, 99.co - Dicatat 3 September 2026 lewat peramban sungguhan. Halaman pertama untuk 16 kapanewon (Ngaglik, Mlati, Depok, Ngemplak, Kalasan, Gamping, Godean, Berbah, Prambanan, Seyegan, Pakem, Turi, Minggir, Tempel, Moyudan, Cangkringan) menghasilkan 327 iklan yang lolos saring. Catatan teknis: portal ini membalas 403 dengan halaman tantangan Cloudflare untuk klien non-peramban, jadi pemeriksa otomatis bisa melaporkannya gagal meski halamannya hidup
  5. Rumah dijual di Kabupaten Bantul, 99.co - Dicatat 3 September 2026 lewat peramban sungguhan. Halaman pertama untuk 10 kapanewon (Kasihan, Banguntapan, Sewon, Sedayu, Piyungan, Pajangan, Pleret, Jetis, Pandak, Kretek) menghasilkan 204 iklan yang lolos saring. Kretek hanya menyumbang 2 iklan, sehingga tidak dipakai untuk menyimpulkan apa pun
  6. Rumah dijual di Kota Yogyakarta, 99.co - Dicatat 3 September 2026 lewat peramban sungguhan. Halaman pertama untuk 13 kemantren (Umbulharjo, Gondokusuman, Tegalrejo, Kraton, Wirobrajan, Mergangsan, Mantrijeron, Jetis, Kotagede, Pakualaman, Danurejan, Gondomanan, Ngampilan) menghasilkan 253 iklan yang lolos saring. Kemantren Gedongtengen tidak tersedia sebagai halaman wilayah tersendiri di portal itu, jadi tidak ikut tercatat
  7. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Yogyakarta - Diakses 3 September 2026, membalas 200 dengan judul halaman asli. Dipakai sebagai kanal resmi layanan PBB-P2 Kota Yogyakarta, bukan sebagai sumber angka harga
  8. Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kabupaten Bantul - Diakses 3 September 2026, membalas 200 dengan judul halaman asli. Dipakai sebagai kanal resmi layanan PBB-P2 Kabupaten Bantul. Kanal Sleman, yaitu Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sleman, sengaja tidak dimasukkan ke daftar ini karena membalas 403 dengan halaman tantangan Cloudflare untuk klien otomatis, meski halamannya normal saat dibuka lewat peramban